Halal Vs Kosher


Tadi pagi saya menulis di Twitter bahwa pembuatan gel alias agar-agar di Eropa biasanya menggunakan kulit babi. Informasi ini saya ketahui dari tetangga saya orang Polandia yang heran melihat saya masak agar-agar padahal setahu dia agar-agar itu ada babinya. Saya mengatakan santai saja ini agar-agar asli Indonesia dari seaweed alias rumput laut .. aman dan halal 😉
Nah, ternyata banyak jg yang menimpali termasuk Chef Haryoe yang memberikan saran untuk mencoba produk dengan label Kosher. Awalnya saya bingung, apa itu Kosher ? Baru denger nih … 😀
Oooo ternyata kosher itu produk makanan yang disertifikasi oleh Yahudi yang salah satunya tidak boleh mengandung babi. Produk dengan sertifikasi Kosher ini telah banyak ditemukan di Eropa dan AS. Beberapa orang menyarankan jika sudah masuk list Kosher, makanan sudah aman dimakan. Eiiiiits tunggu dulu … Setelah saya membaca Republika ini :

Meskipun ada kemiripan antara halal dan kosher, sebenarnya keduanya adalah berbeda. Ada barang haram yang masuk kategori kosher, sebaliknya ada juga makanan halal yang masuk dalam kategori treyfah.

Contoh makanan dan minuman yang masuk dalam kategori kosher tetapi tidak halal adalah minuman anggur (wine). Juga semua jenis gelatin (tanpa memandang terbuat dari tulang atau kulit hewan apa) dan semua jenis keju (tanpa melihat cara dan proses pembuatannya).

Daging kosher, meskipun berasal dari hewan halal, tetapi proses penyembelihannya tidak menyebutkan nama Allah (Jehovah Elohim) karena mereka berkeyakinan bahwa tidak pantas menyebut nama Tuhan yang Suci di tempat yang kotor (rumah potong).

Perbedaan tersebut menyebabkan implikasi yang sangat luas dalam konteks makanan halal. Produk-produk yang mengandung gelatin bisa saja dianggap sebagai makanan kosher. Demikian juga minuman yang mengandung alkohol seperti wine, yang oleh ajaran Islam jelas-jelas haram, di kalangan Yahudi masih diperbolehkan dengan jumlah tertentu.

Di sisi lain, ada juga makanan yang halal dan thayib menurut Islam, tetapi tidak kosher menurut Yahudi. Contohnya adalah kelinci, unggas liar, ikan yang tidak bersirip atau bersisik, kerang, dan tidak boleh makan daging bersama susu kecuali waktu makannya terpisah. Selain itu potongan-potongan daging tertentu, meskipun dari hewan yang halal, juga dianggap tidak kosher.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, halal jelas tidaklah sama dengan kosher. Demikian juga haram tidak sama dengan treyfah. Keduanya memiliki dasar filosofis dan teknis pelaksanaan yang berbeda.

Sepertinya kita tetep kudu ati-ati dan lebih aware, meskipun produk makanan tersebut sudah bersertifikasi Kosher. Lebih baik kita sebagai umat Islam lebih memprogandakan kata-kata halal ke seluruh dunia ketimbang mengkampanyekan bahwa semua produk sertifikasi kosher adalah halal.

Iklan
  1. Alhamdulillah…., informasi penting banget ini. Makasih ya, Mbak.

    Ohya, mumpum msh di bulan Syawal, saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf saya selama ini ya, MBak, batin dan lahir; taqabalallahu minna wa minkum….

    • Totok Kurniawan
    • Maret 15th, 2012

    Alhamdulillah…
    manteb informasinya..:-)
    Jzk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s