Khadijah dalam keterasingannya …


Sesungguhnya ketika Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW, ia diejek oleh wanita-wanita Mekkah. Mereka tidak mau masuk ke tempatnya, tidak mengucapkan salam kepadanya, dan tidak membiarkan seorang wanita pun masuk ke tempatnya, sehingga Khadijah menjadi risau karenanya. Ia berduka dan bersedih hati jika Rasulullah keluar rumah. Maka ketika ia mengandung Fatimah, bayi kandungan itu menjadi temannya. Karena itulah terkadang Khadijah pun berbicara dengan janinnya.
Ketiba tiba saat melahirkan, tidak ada satupun wanita Quraisy dan Bani Hasyim yang menolongnya, bahkan mereka berkata, “Kamu telah membantah kami dan tidak mendengar omongan kami. Kamu menikah dengan Muhammad, anak yatim Abu Thalib, seorang yang miskin  dan tak punya harta. Maka kami tak akan datang dan kami tak akan mengurus urusanmu, apa saja” Khadijah semakin sedih, kemudian Allah menurunkan wanita-wanita dari langit untuk menolong kelahiran Fatimah.
Saya memang bukan Khadijah, namun kisah Khadijah tersebut mengispirasi kehidupan saya pada saat seperti ini. Hidup merantau sendirian di Surabaya, jauh dari keluarga.

Namun saya masih bersyukur, saya punya banyak teman disini dan tentu saja mahasiswa. Jadi saya tidak merasa terasing😆 Meskipun begitu terkadang saya juga mengalami kesulitan juga, terutama saat 3 bulan pertama. Sungguh tubuh tidak bisa diajak kompromi, seperti tiba-tiba pusing dan lemes. Yang paling tidak saya ingatkan sakit itu terjadi saaat saya sedang mengajar. Saya pernah terpaksa meninggalkan kuliah di tengah mengajar karena sudah tidak tahan. Pernah pula malam-malam sakit di punggung yang luar biasa dan tidak ada satupun yang bisa antar ke dokter. Akhirnya saya usahakan untuk tidur sampai keesokkan paginya. Alhamdulillah paginya sembuh. Selama inipun saya juga naik sepeda motor sendiri ke kampus. Ketika awal-awal bulan sering memakai korset untuk melindungi dari goncangan, Alhamdulillah sekarang sudah lumayan kuat. Namun saya masih belum berani melakukan perjalanan jauh dengan sepeda motor.

Ada satu hal lain yang mengusik pikiran saya saat hamil ini. Saya bingung bisakah saya berangkat melanjutkan studi S3 saya. Beberapa kali mempunyai keinginan untuk mengirim email ke profesor selalu kandas. Ada perasaan bersalah, telah berkali-kali mundur berangkat. Belum lagi ada cerita dari teman, kalau temannya dideportasi dari Belanda karena ketahuan hamil. Hiks, bimbang rasanya. Saya tidak punya keberanian menceritakan kehamilan ini ke Profesor saya. Ntahlah, sore kemarin saya memiliki keberanian tersebut. Setelah menulis basa-basi sana sini, akhirnya saya bercerita kondisi saya saat ini. Bismillah, tombol “send” saya tekan. Kebiasaan Professor saya membalas email saya shubuh. Tapi tidak beberapa lama kemudian Professor menjawab email saya. Duh, apa ya ? Saya tidak sabar. Kalimat pertama … “Congratulation ….!” Hhhmm , what are the next sentences ? “Saya juga baru punya bayi 6 bulan yang lalu. Tentu saja kita selalu menyambut kedatanganmu untuk melanjutkan PhD disini. Kita akan cari grant lain sebagi backup😀 ” What ! Alhamdulillah ! Saya setengah tidak percaya membaca email tersebut. Subhanallah…  Malam harinya saya pun mulai mempersiapkan aplikasi untuk mendapatkan grant tersebut. Semangat …iin …
    • masarno
    • Mei 15th, 2009

    Itulah pengorbanan seorang Ibu………… Bersyukurlah dan jangan mengeluh…. Masih banyak wanita yang ingin seperti Ibu namun belum diperkenankan oleh Tuhan…….

    Memang alangkah Bagusnya nanti kalo udah sampe tujuh bulan Istirahat Total…

    Surabaya bukanlah tempat yang jauh dibandingkan dengan tempat lain yang lebih tak terjangkau… Jangan merasa sendiri.. Allah bersamamu selalu jika engkau meyakininya ….

  1. Semangat ya Neng..
    semoga Allah senantiasa memudahkan jalanmu kemanapun dan dimanapun🙂

  2. Subhaanallaah.
    Yassarallaahu laki umuwraki.
    Semoga Allah memudahkan urusan2mu.

  3. Alhamdulillah…
    JIA YOU MBAK IIN…

    • Zalfany
    • Mei 16th, 2009

    Tertarik sedikit soal dideportasi dari Belanda karena ketahuan hamil. Apa bener alasan utama karena kehamilan itu? Saya kebetulan sedang tinggal di Belanda (dan istri sedang S3, dan juga sedang hamil🙂, kok sepertinya susah dipercaya ya dideportasi hanya karena hamil.

    Terakhir (dan yang lebih penting🙂, buat Mbak Iin, mudah2an semua urusannya mendapat kemudahan dan lancar tanpa kendala.

    • basman
    • Mei 17th, 2009

    assalamualaikum

    kalo jadi berangkat, apa ndak takut ketularan H1N1?

    wassalam

  4. as my last Nick name, alone.
    kesendirian Khadijah.
    third line, congrazt for your pregnant. wish ALLOH give you the good child.
    i think i will read about the lonely khadijah while she live and together with Rosululloh. but end of this story is about your feeling lonely. believe that we are not alone, coz ALLOH will be beside us.

    nb: i recognize nuraini, rully’s friend. when live at Gebang wetan. maybe is you.

  5. mbk saya mau tanya, cerita ttg khadijah di kutip dari mana yah?

    terima kasih

  6. alhamdulillah, hamil berapa bulan ukh ?
    lamo tak jumpo kita, dan mau s3 aja
    sementara diriku sibuk memperkaya perusahaan swedia😀

    //suroi

  7. thx infonya..

  8. Subhanallah.. bagaimana sekarang? sudah selesai kah S3nya.. Salam,ya sist..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s