Visa ke US ditolak


Jalan begitu terjal dan mendaki … ketika telah sampai di puncak … saya harus melewati sebuah danau. Danau tersebut dijaga oleh dua orang yang suka bertanya ini itu bagi orang yang akan menaiki perahu melewati danau tersebut untuk menuju daratan yang katanya gemah ripah loh jinawi. Dua orang tersebut suka bertanya, namun sering kali tidak mengatakan alasan jelas kenapa orang-orang tidak diperkenankan untuk menuju ke daratan tersebut.

Siapakah dua orang tersebut ?

Well, yuk flashback dulu ke tahun 2007. Di tahun tsb, saya membaca pengumuman tentang seminar gracehopper di Florida, sebuah seminar terbesar yang ditujukan untuk wanita IT dunia. Saya sangat senang sekali membacanya apalagi melihat berita kegiatan tsb pada tahun 2006. Sekitar 1000 lebih wanita IT yang datang. Konferensi tsb dihadiri pula oleh para pakar wanita IT ( professor, profesional, praktisi IT). Wah jadi pengin belajar nih langsung dari mereka.. apalagi saya melihat ada beasiswa untuk student. Nyoba aah namanya juga iseng-iseng berhadiah. Saat itu saya mendapatkan rekomendasi dari Prof Chen (supervisor saya di Taiwan), Prof Li (Professor yang saya asisteni untuk kuliah OOP) dan Louis Landry (Lead developernya Joomla). Untuk membuat essay saya dibantu Sokam. Namun beasiswa saya tidak diterima, maklum jika dilihat dari CV dan essay sangat tidak meyakinkan 😳 . Sapa yang mau kasih beasiswa sebesar itu, dengan background kurang menyakinkan. Ada lebih dari 900 pelamar sedunia, yang diterima sekitar 100 org. Namun saya bertekad tahun depan mencoba lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang.

Sekitar bulan maret 2008, saya merasakan stuck pada thesis yang berkaitan dengan Smart Card Web Server(SCWS). Tidak ada paper dan dokumentasi yang bagus untuk SCWS. Di tengah ke-stress-an tersebut, saya melirik sebuah paper GAMER, sebuah geocast protocol. Daripada stuck terus-menerus di SCWS, akhirnya saya isenk mengkustomisasi algoritma protocol tsb. Seminggu sudah akhirnya tercipta sebuah paper baru yang mengkoreksi algoritma yang lama. Pada awalnya paper ini saya kirimkan ke Mobihoc 2008 di Hong Kong, namun tidak diterima. Kemudian saya kirimkan ke Grace Hopper 2008 di Colorado dan alhamdulillah diterima. Wah, kalo sudah diterima gmn berangkatnya nih … ? Coba daftar beasiswa student sekali lagi ah …

Untuk tahun 2008 ini, dalam pengerjaan essay saya dibantu oleh Prof Birgitta(Jena, Jerman). Beliau mempoles tulisan saya. Masalah rekomendasi saya mendapatkan dari Prof Chen(supervisor saya di taiwan), Prof. Tracy Camp (Ketua N2Women – Kelompok Jaringan Komputer Wanita Dunia) dan Leslie Hawthorn (Program Manager Google Summer of Code).

Untuk mendapatkan rekomendasi dari Prof Tracy Camp, saya harus melakukan 2 hal sebelum mendapatkan kepercayaan beliau. Pertama, awal tahun 2007, saya melakukan patching untuk inSpect, sebuah software penelitian Prof Tracy untuk menvisualisasikan NS2. Saya sebenarnya tidak sengaja melakukan hal ini untuk mendapatkan rekomendasi beliau. Semua ini saya lakukan untuk menvisualisikan penelitian AHBG yang saya lakukan di kernel Linux yang baru. Kebetulan saja iNSPECT tidak bisa berjalan di Kernel Linux yang baru, sehingga saya buka kode2nya dan saya cari bug-bugnya. Alhamdulillah saya berhasil menjalankan iNSPECT di kernel linux terbaru. Hasil pacth tersebut saya berikan ke Prof Tracy. Beliau berterima kasih dan memberikan kredit point bagi saya. Semenjak itulah, kami sering kontak lewat email, apalagi beliau juga tahu saya adalah seorang wanita. Setelah itu, saya bergabung di N2Women. Suatu hari saya pernah mengirimkan email di N2Women berkaitan dengan ide-ide saya untuk pengembangan N2Women. Prof Tracy langsung menawari saya untuk menjadi organizer committee dalam sebuah acara N2Women meeting. Namun tentu saja harus diseleksi oleh para Professor Senior di N2Women. Alhamdulillah saya mendapatkan N2Women Fellowship award 2008 dan harus bertanggung jawab pelaksanaan N2Women meeting di Hong Kong. Patching iNSPECt dan menjadi panitia N2Women itulah yang membuat Prof Tracy memberikan rekomendasi bagi saya.

Bagaimana bisa mendapat rekomendasi dari Leslie ? Kebetulan saja Louis Landry dan Wilco Jansen adalah sahabat dekat dari Leslie Hawthorn. Apa yang terjadi pada saat saya menjadi Google Summer of Code (GSoC) 2007 sering terdengar oleh Leslie. Ketika Leslie sedang membutuhkan 3 foto GSoC student untuk persentasi pelaksanaan GSoC di California dan beberapa tempat lainnya, beliau menghubungi saya. Itulah awal kita menjadi dekat. Kemudian saya juga harus presentasi tentang GSoC di ICOS 2007 Taiwan bersama Sam Moffat. Leslie mengirimkan Kaos, sticker, buku dll untuk saya. Kadang kita juga bercerita kegiatan kita di seputar OSS.

Alhamdulillah .. Allahu Akbar… tanggal 1 Agustus 2008, saya mendapatkan email

Dear Nur Rakhmawati,

Congratulations! We are happy to inform you that you have been awarded a scholarship to attend the 2008 Grace Hopper Celebration of Women in Computing Conference. You were selected from a competitive pool of over 600 deserving applicants. We appreciate the time you spent writing a thoughtful essay and submitting your application.

………….

Tanggal 6 Agustus 2008, saya mendapatkan undangan dari Anita Borg yang akan digunakan untuk pengiriman visa.

To Whom It May Concern:
The Anita Borg Institute for Women and Technology will be holding the Grace Hopper Celebration of Women in Computing, in Keystone, Colorado, U.S.A., on October 1-4, 2008. Attendance for this conference is open to all those interested in the subject matter. Nur Aini Rakhmawati has been selected from a highly competitive pool of candidates to receive a full travel scholarship to attend this conference. The scholarship includes registration, hotel and travel funding for September 30 – October 4, 2008.
Co-founded by Dr. Anita Borg and Dr. Telle Whitney in 1994 and inspired by the legacy of Admiral Grace Murray Hopper, the Institute’s Grace Hopper Celebration (GHC) Of Women in Computing Conference is designed to bring the research and career interests of women in computing to the forefront. It is the
largest technical conference for women in computing and results in collaborative proposals, networking and mentoring for junior women and increased visibility for the contributions of women in computing. Conference presenters are leaders in their respective fields, representing industry, academia and
government. Top researchers present their work while special sessions focus on the role of women in today’s technology fields.

…………….

Setelah itu saya mulai melakukan pengurusan Visa, melakukan pengisian DS-156 secara online. Tanpa saya sadari DS-156 form PDF saya kosong, meski saya sudah melakukan pengisian. Sepertinya browser warnetnya tidak mendukung, mau mengisi ulang namun sudah terlanjur membuat janji dengan barcode yang tertera di DS-156. Akhirnya saya edit sendiri memakai acrobat writer. Lalu, saya membuat berbagai surat kelengkapan yang dibantu oleh Pak Diding (FTIf) dan Bu Rini (International Office ITS) seperti surat tugas yang menunjukkan saya benar-benar dosen ITS. Selain itu saya juga melengkapi dengan fax booking itenary berupa tiket PP Surabaya – Hong Kong – Los Angeles – Denver atas saran dari Pak Nunut. Untuk masalah foto terpaksa saya harus sedikit buka bagian telinga saya, namun tetep memakai kerudung. Saya difoto mbak Yuhana dengan latar putih dinding rumahnya kemudian di print sendiri.

Tanggal 25 Agustus 2008, saya pergi ke Konjen USA di jalan Dr. Soetomo. Selain membawa semua dokumen diatas, saya juga membawa buku tabungan, deposito, kartu keluarga, akte kelahiran dan lain-lain. Pukul 7.30 itulah jadwal wawancara saya. Banyak juga orang yang antri. Setelah dipanggil satu persatu dan menunjukkan bukti KTP, kami diperbolehkan masuk. Loket pertama adalah loket pembayaran. Kita harus membayar sebesar 131 USD atau 1,2 juta rupiah. (perlu diingat uang ini tidak akan kembali jika visa kita ditolak). Setelah membayar biaya visa, saya akan masuk ruang detektor. Semua alat komunikasi seperti HP harus diserahkan ke petugas dan baru diambil ketika wawancara selesai.

Kemudian saya masuk loket 1 untuk memberikan semua berkas dokumen. Waduh ternyata ada bagian dari barcode tidak terbaca, gara-gara warnet, tempat saya mengisi formulir tidak support 128 bit. Oleh petugas loket 1, saya diberi kesempatan untuk mengisi formulir lagi di luar konjen dan harus kembali lagi sebelum pukul 11. Masih untung sih daripada dinyatakan gagal sebelum wawancara 😛 Saya keluar dari konjen untuk mencari warnet terdekat. Lumayan jauh sih tepatnya di belakang McD. Alhamdulillah warnet yang satu ini support formulir online visa dan sebelum pukul 10.00 saya sudah kembali ke konjen.

Nama saya dipanggil di loket 2 untuk melakukan sidik jari. Yang paling susah adalah di loket 3 disitulah proses wawancara yang menentukan visa diterima atau ditolak. Kalau sudah terdengar kata “I am sorry” wah alamat visa kita ditolak. Ketika nama saya dipanggil, jantung saya berdegup kencang. Bismillah … Petugas tersebut menanyakan alasan mengapa saya datang ke USA. Kemudian pernah pergi kemana aja. Disitulah mulai kelihatan visa saya bakal ditolak. Baru datang dari Taiwan (30 Juli), kok sudah jadi dosen di ITS ? Udah dijelasin kalo dulu lulus S1 langsung jadi dosen dan tugas belajar ke Taiwan selama 2 tahun (Sayang surat Sekab g dibawa) Bawa bukti gaji atau penghasilan tidak ? ( hu .. hu .. g bawa juga 😦 ) Saya mengira dengan bukti NIP dan surat rektor dah cukup. Saya khan dosen, bukan pegawai / karyawan perusahaan. Oh tapi itu fatal banget. Tanpa ba bi bu petugas tersebut memberikan selembar kertas penolakan visa dan mengembalikan paspor saya 😥 Ya beginilah pengalaman pertama mencari visa ke USA, bener kata orang akan ada pertanyaan2 tak terduga dan penolakannya pun juga tak terduga.

Bersambung …..

    • Adi
    • September 13th, 2008

    Gak bener nih Amerika. Urus satu visa aja susahnya setengah mati khususnya buat orang Indo. Mereka paranoid dan mengira mengira semua orang Indo adalah teroris secara default. Edan!

  1. sabar bu. dicoba lagi aja… 😀

    • nRa
    • September 14th, 2008

    jiayou mbak … dibalik kesulitan ada kemudahan yang diberikan olehNya,
    semoga selamat sampai ke Amrik dan dapat kembali ke tanah air dengan selamat juga.

    udah lama gak denger kabar dari mbak … jangan lupa oleh2nya yah 🙂

  2. sorry to hear that…

    ayo coba lagi mbak… looking for good news from you later 🙂

  3. Bismillaah,

    Well, sabar ya sister. In syaa’ Allaah ada hikmahnya. Saya dulu pernah mengalami hal yang serupa ketika hendak ke Canada, bahkan sejak membuat passport. Saya muslimah yang bercadar dan berpakaian hitam, dan kala itu berita tentang Imam Samudera yang “fugitive in justice” menjadi hot news yang mana semakin memperparah keadaan saya. Saya sangat membenci Imam Samudera. Di kantor imigrasi, saya dipaksa untuk mencopot jilbab saya dan harus menampakkan telinga saya, namun saya tidak menuruti. Saya ditolak. Saya tidak berputus asa dan terus berusaha mendapatkan passport. Setelah debat panjang, dan argumentasinya terkalahkan, alhamdulillaah saya diberi passport dengan foto berjilbab dan yang melayani saya adalah pegawai-pegawai perempuan. Well, saya merasa yakin bahwa Allaah akan menolong saya waktu itu. Kemudian perjalanan saya tidak berhenti di situ saja..

    Well sister, jika tidak mendapatkan visa juga after making a lot of efforts, then memang Allaah tidak menghendaki you to go there, dan tentunya Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik for you. Perhaps going there will harm you, Allaahu a’lam..

  4. Waktu itu saya sangat membenci Imam Samudera yang ketika itu berstatus “fugitive from justice”. Yeah, karena hampir semua pertanyaan yang diajukan berkisar tentang kaitan saya dengan Imam Samudera hanya karena saya bercadar..

  5. Semangat dan tetap sabar ya bu Iin, Bu Iin udah mengalami banyak pengalaman seru yang terlepas itu berhasil atau gagal insya Allah akan sangat berguna buat ke depannya nanti. Chayoo

    • huda
    • September 24th, 2008

    Kalo menurutku sih alasan mereka menolak, ya tanpa lain karena mbak berjilbab. Kalo mbak ga berjilbab, dijamin ga bakal ditanya macem2 pasti ditrima visanya.
    Ya dasar amrik pobia sama Islam aja….
    Saya do’akan keuangan mereka bener2 ancur..cur…cur…

  6. Emang benar Bu, yg paling menentukan adalah waktu interview. Saya juga punya temen, padahal semua dokumen dah pada lengkap. Nah waktu interview itu yg gagal.
    Bersabar aja ya Bu. Mungkin Tuhan belum rela ibu berangkat ke US. mudah2an ada kesempatan lain nantinya.
    yakin usaha sampai Bu.

    • hanif hanif
    • September 25th, 2008

    yo wis sing sabar. Jenenge urip iku akeh cobaan. Lek urip gampang kan yo gak seru, tho…

    • ika
    • September 28th, 2008

    Sabar ya… Innallaha ma asshobirin…

  7. Salam kenal…

    • kerry
    • September 8th, 2009

    salam,

    saya juga muslimah dr msia , kini myambung phd di Uk.Saya mengalami nasib yang sama seperti saudari walaupun dokumen saya lengkap dan mendapat anugerah conference yg saya akan pergi. Saya sungguh kesal namun sesungguhnya Allah maha mengetahui segalanya

  1. Oktober 5th, 2008
  2. Juli 21st, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s