Itung-itung uang


Kira-kira sudah 2 tahun, saya bekerja sebagai dosen tetap di ITS.  Setahun 3 bulan menjadi CPNS, setahun kemudian sudah berstatus sebagai PNS plus asisten ahli. Alhamdulillah sudah mandiri 🙂 Tidak tergantung dengan Bapak lagi. Tidak terima kiriman transfer uang lagi beliau. Malu dong 😳

Dulu uang yang masuk selama mahasiswa semua dari Bapak. Uang keluar dan masuk begitu saja. Meski kadang-kadang bisa nabung juga sich. Setelah menjadi mhs, jadilah Dosen CPNS. Sama aja uang juga keluar masuk begitu saja. Maklum CPNS 😛 Sejak jadi PNS plus asisten ahli, belum lagi mengajar, riset dan proyek. Alhamdulillah sudah dapat menabung lumayan lah. Sepertinya saya harus mulai berpikir masalah zakat ini. Takut juga kalau harta tidak bersih. Masalahnya banyak perbedaan pendapat tentang zakat profesi. Ada yang bilang zakat profesi itu tidak ada dalam Islam … Ada yang bilang zakat profesi untuk disamakan dengan zakat pertanian dan pengeluaran juga sesuai dengan zakat pertanian. Ada lagi yang yang mengatakan zakat profesi sama dengan zakat emas, dimana dinilai dengan nishab emas.

Hhhmmm

Setelah melakukan pencarian tentang zakat profesi. Ada sebuah link menarik dari Yusuf Qordhawi tentang zakat profesi ini. Dalil-dali yang digunakan juga cukup kuat untuk dijadikan pertimbangan. Jadi pengin beli bukunya, kalau sudah di Indonesia. Maklum cari buku Indonesia susah di sini.

Sekarang yang bingung apakah beasiswa termasuk dalam zakat profesi juga ya ?

Iklan
  1. tapikan belajar/studikan itu juga jihad….

  2. Ditunggu hasil pembelajarannya….

  3. Bismillah
    # Bu Iin
    Yusuf Qaradhawi adalah ulama ahli fiqih kontemporer yang bagus. Namun, sayangnya, untuk menshahihkan dan mendhaifkan hadits, beliau mengambil pendapat Ibnu Hazm sebagai pendapat utama. Ibnu Hazm, juga ulama ahli fikih yang bagus dan menjadi referensi banyak ulama, meskipun beliau mempunyai kekurangan dalam tata cara menshahihkan dan mendhaifkan suatu hadits, sehingga beliau mendapat kritikan dalam hal ini.
    #1 Din
    Dalam penjelasan tersebut, ustadz yang menjawab berasumsi bahwa beasiswa tersebut diperoleh karena mahasiswanya tidak mampu. Nah kalau mampu?
    #2 Arul
    Definisi jihad dalam peruntukan zakat berbeda dengan definisi jihad secara umum yang berarti berjuang.
    Wallahu ‘alam.

    iin : terimakasih Kholimi

  4. Ya, ingat aja In, dibalik harta kita, ada hak orang lain. Kalau aku sih gak mau terlalu berpikir rumit dengan jumlah-nya dan-kawan-kawannya. Jadi ya, selalu ada yang disisihkan untuk hak orang lain.

    • mahmud
    • Juni 12th, 2007

    salut …..

    ojo lali jaga kesehatan … !!

  5. O dosen to, berarti bukan muslimah biasa donk, itu namanya muslimah luar biasa

    iin : dosen juga manusia biasa

    • Wishnu
    • Juni 20th, 2007

    Saya kira Mbak Nur Aini ini adalawah reporter Jawa Pos. Bener ga sih?

    iin : iya kali ya ? 🙂
    baru tahu juga …..

    • eid
    • Juni 20th, 2007

    #4 kalau mahasiswa tsb mampu sehingga bisa menabung dari hasil beasiswanya, kemudian dgn harta tsb ternyata sdh jatuh wajib (nisab) zakat berarti jatuhnya zakat harta.
    Ayoo…masing-masing hitung/hisab…hidupkan semangat dan gemar berzakat.

    • DIdi
    • Juli 2nd, 2007

    wah keren bisa jalan2 ke luar negeri. pasti susah ya jadi muslimah di luar. apalagi pas lagi puasa ramadhan. tapi, semakin besar tantangannya semakin besar pahalanya.
    seandainya indonesia mau menghidupkan zakat. pasti kekayaan gak hanya berputar di kantong orang kaya aja. kapan ya, zakat bisa jalan. aku yakin salah satu cara brantas korupsi adalah dengan zakat.

  6. salam kenal ya mba….

  7. aku nangkepnya beasiswa itu hitungannya kayak hibah. bener gak ya?

    • gustri
    • Juli 9th, 2007

    dulunya sih, aku sangat hitungan banget soal duit. Harap maklum lah, ekonomi pas-pasan.
    Akan tetapi setelah mendengar penjelasan dari seorang guru ngaji, maka dengan mantabb saya berpendapat:

    1). Zakat yang kita keluarkan, pada hakekatnya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri (akherat oriented). Kita tahu bahwa Allah sungguh Maha Tahu, (QS. 35 ayat 38); 38. “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Hebatkan ??!

    2). Adapun efek yg lain, secara sosial tentunya sangat bermanfaat lhoo.. dan secara pribadi dapat mengurangi kekikiran. Ingat bahwa semua yang kita punyai, pada hakekatnya adalah pinjaman Alloh.

    3). Pak Guru bilang, Zakat adalah bagian terpenting dalam Jihad Fi Sabilillah. Kadang kita repot-repot harus menghitung nishob maupun besarnya zakat. Kalau ruh islam yang kita sikapi, maka InsyaAlloh efeknya pemurtadan dapat diminimalkan dan dunia Islam akan lebih berkembang dengan adanya madrasah / PT yg TE-O-PE. Andai 1000 moslems mengeluarkan zakat @10.000Rp maka 10.000.000Rp dapat membantu umat ekonomi lemah untuk membangun usaha keluarganya.

    4). Adapun kelebihan zakat yang kita keluarkan, maka nilainya adalah infak. Ibarat kita mengenakan pakaian, khusus pria maka wajib mengenakan celdam. Sedangkan untuk kemeja, dan celana panjang ibarat sunnahnya (infak: red). Dalam hal ini sunnah melengkapi yang wajib. Jadi nggak usah bingung dengan besarnya zakat 🙂

    dan masih banyak lagi… (nggak cukup 1 sks). He..he..

    >

    • gustri
    • Juli 9th, 2007

    ralat point no.4

    maksudnya: Pria Diperbolehkan memakai celdam saja (celana pendek) sebagai penutup aurat. Akan tetapi untuk menjaga kesopanan dll. maka diperlukan pakaian lainnya untuk menyempurnakan pakaian wajib yang menutup aurat. Mudah2an tidak terjadi miss informasi. …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s