Ceramah atau Piknik Keluarga


Senin kemarin si Feng Yao mengeluarkan beberapa hipotesanya :

  • Orang Indonesia di Indonesia Islamnya baik namun di sini jadi Islamnya jadi melemah
  • Orang Indonesia di Indonesia Islamnya lemah dan disini tetap aja.
  • Oran Indonesia di Indonesia Islamnya lemah namun disini justru bertambah baik
  • Orang Indonesia di Indonesia Islamnya baik dan tetap mepertahankan Islamnya di Taiwan

Gara-gara skripsi Feng Yao saya jadi teringat kisah beberapa waktu lalu.
Dulu ketika di Masjid Kecil Taipei saya membaca sebuah proposal untuk menghadirkan seorang ustad dari Indonesia. Busyet !!! Anggarannya gedhe banget. Kok bisa ya ? Setelah dibaca kok orang yang ikut ke taiwan bisa 7 orang. Emang ustadnya ada 7 ???? Wallah kok jadi piknik keluarga gini …….. Ya udah akhirnya tidak jadi dech memanggil ustad tersebut ke Taiwan. Berat diongkos he he. Bayangkan onkos transportasi PP, hotel dll.

Beberapa waktu lalu juga 2 orang ustad datang ke Taipei. Saya benar-benar terkejut beliau berdua mau tidur di Masjid Kecil karena tidak dapat tidur di asrama mahasiswa. Tidurnya pun di kursi panjang bukan di tempat tidur empuk. Subhanallah ……

Trus apa hubungannya cerita ustad dengan hipotesa Feng Yao, satu hal yang mungkin dapat dipahami adalah berkurangnya suasana ke-Islaman pada saat ada di Taiwan. Karena disini Islam sebagai minoritas. Tidak terdengar suara adzan. Kedatangan ustad-ustad bagaikan siraman air di tanah yang tandus. Bagaimana mungkin bisa menjaga ke-Islaman dengan baik jika ustad yang diundang meminta dana yang tinggi ?

  1. eh, kalo di depan orang-orang KDEI [apalagi anak-anaknya] hati-hati ngomong “orang Indo”, ada beberapa yang sebel banget tuh dengernya. katanya dikira gue turunan bule kali ya? hihihi.

    kalo aku sih gak gitu peduli, lah, yang penting maknanya nyampe. hehehe. kecuali kalo suasananya emang gak matching buat ngomong “orang Indo”.

  2. kenapa melemah? perlu suntikan kali ya… atau budaya & life style yg bikin melemah?

  3. Kan masih ada buku-buku? Kukira kalau kita ingin memperdalam keislaman kita, tak harus mendatangkan ustad. jaman sekarang terlalu banyak sumber selain ustad yang bisa diambil. Bedah saja 10 buku/kitab dari ulama berbeda, dan diskusikan bersama. Apa bedanya? Toh segalanya tetap tergantung pada diri kita dan motivasi kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

    iin : qta para mahasiswa sedang mencoba melakukan itu
    meski begitu kedatangan org yang lebih paham masalah agama tetepa diperlukan

    • Biho
    • April 2nd, 2007

    Kalo masalah biaya tinggi, nggak bisa jawab deh😦

  4. #to galih

    Tidak bisa klo agama hanya dipelajari lewat buku. Mesti harus ada ustad yg membimbingnya. Membaca memang harus tp di samping itu mesti ada seorang ustad yg membimbingnya. Imam-imam ( Al Gazali, Hambali, Hanafi, Syafi’i) juga para sahabat Rasul (Kulafaur Rasyidin) semua belajar kepada guru masing2. Para sahabat langsung belajar kepada Rasullullah. Menurut ane kita terlalu sombong jika hanya mengandalkan otak kita utk memahami agama lewat buku. Af1 jika ga berkenan ….

  5. #aysia:
    Saya membandingkan dengan ustad yang meminta dana tinggi itu. Bukankah masih ada sumber yang banyak daripada mendatangkan ustad tersebut? Tak adanya ustad bukan halangan buat kita untuk mempelajari agomo. Bukan berarti kalau ndak ada ustad berarti keislaman kita tidak naik. Itu point saya, dan saya tidak berpendapat tidak perlu ustad untuk membimbing saya. Dengan semangat riset dari berbagai literatur dan sumber yang berbeda, saya tetap percaya bahwa saya bisa mempelajari agomo dengan baik. Itu akan membuat saya tetap open minded, meskipun harus sangat hati-hati tak boleh ceroboh dalam menyerap berbagai hal. Zaman khulafaur rasyidin dan imam mahzab bisa dimaklumi karena belum secanggih sekarang dimana informasi bisa diambil kapan saja dan dimana saja.

    Oh, tidak… maaf, saya lupa kalau saya lagi bicara dengan akhwat dan ikhwan yang mulia yang ilmunya sudah jauh diatas saya. maaf, apalah arti pendapat seorang liberalis seperti saya…

    (abis ini pasti ada yang berpesan pada saya, “galih, kembalilah ke jalan yang benar” hehehe…)

    iin : kita semua sedang berusaha kembali ke jalan yang benar
    hayo berusaha dik galih

    • Irawan
    • April 2nd, 2007

    #galih:

    Untuk kondisi Taiwan, terkadang kita perlu mengundang ustadz/ah yang cukup dikenal oleh kebanyakan saudara/i kita di sana. Tidak semua dari rekan2 kita dapat dengan mudah bepergian apalagi kalau bekerja sebagai caretaker.

    Dengan kedatangan ustadz/ah yang cukup dikenal, diharapkan mereka dapat meminta ijin agar sesekali dapat hadir ke acara untuk sekedar siraman rohani.

    Terlebih sering, mereka diantar majikan atau juga kadang tetap membawa orang yg dijaganya ke tempat acara. Di sinilah sering terjadi perubahan pandangan. Apakah itu dengan melihat dengan mata kepala sendiri. Atau mungkin berdialog dengan kita, imam masjid, pengurus masjid, ataupun orang lain yang bisa mereka ajak berkomunikasi.

    Ada majikan yg sekedar mengantar, tetapi setelah melihat kegiatannya positif, mereka bersedia untuk lebih sering memberikan waktu kepada rekan kita untuk hadir dalam kegiatan rutin. Ada orang yg tadinya acuh tak acuh dengan Islam, kemudian malah minat untuk tahu lebih banyak. Dari sisi pekerja, mereka bisa punya kesempatan bertukar informasi.

    Jadi, sebenarnya mengundang seorang ustadz/ah yg cukup dikenal itu perlu karena memang ada efek sampingnya yang cukup positif. Namun memang biasanya ajudan ustadz/ah juga turut serta, sehingga biaya jadi agak tinggi. Namun hal ini bisa dibicarakan dengan pihak yang diundang tentunya.

    Demikian pengalaman kami di Taiwan.

    iin : syukron tambahannya Mas Irawan
    contoh kedua yang saya sebut merupakan dua ustad yang tidak komersil
    ajudan tidak perlu banyak2

  6. Hohoho… mungkin ustadz itu pada mau shopping seperti anggota DPR kalau study banding. Makanya perlu datang berombongan sebagai teman dalam berbelanja.

  7. ustad juga manusia….

    • rasyid
    • April 4th, 2007

    Waktu saya dengar ceramah jum’at dimesjid, seorang ustadz kecewa sama ustadz yg juga berprofesi sbg artis karena meminta tarif gede , memang ustadz juga perlu uang tapi kalo minta tarif tinggi seh keterlaluan, apalagi kalo artis…

  8. kebayang klo saya tinggal di negara yang muslimnya jadi minoritas,..
    gimana sulitnya bisa berjamaah pa lagi jumatan

    [bersyukur]🙂

  9. btw, kenapa harus ustad dari indonesia sih ? umat islam cenderung mengkotak kotakkan diri berdasar etnis, sedih ..😦

    iin : lha audiennya sebagian besar org Indonesia terutama para TKI kalau pakai bhs Indonesia lebih bisa dimengerti

  10. #papabonbon:
    Sepertinya ini tidak berhubungan dengan masalah peng-kotak-an regional deh.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s