Hunting Bicycle at MidNight


Sebenarnya sudah lama ingin punya sepeda sendiri seperti Bu Yuhana. Tapi terkadang mikir-mikir sangat pentingkah sebuah sepeda bagiku. Malah yang terpikir beli roller blade, karena kepengin ajah. Selama ini saya pinjem sepeda teman Lab, vera namanya. Masih ingat cerita saya tentang sepeda bayi ini gambar sepeda teman saya :

Dulu saya terpaksa pinjem karena hampir tiap hari harus ke mesjid selama ramadhan untuk tarawih. Kebetulan saja Vera sedang hamil sehingga tidak diperbolehkan untuk naik sepeda. Sekarang pun dia tidak pernah ke lab karena dikhawatirkan bayinya akan prematur dalam 2 bulan ini.

Setelah ramadhan saya jarang sekali memakainya. Seminggu sekali biasanya terpakai ke masjid kecil jika ada kegiatan. Ke kampus dan lab juga dekat sekali dari asrama. Jadi rasanya tidak butuh beli apalagi disini hanya sementara saja.

Hari berganti hari

Hari ini setelah pulang rapat Indo Culture Exhibition, saya baca email NTUST.

Kok ada gambar sepedanya ? Seperti di bawah ini

Saya jadi berpikir “jangan-jangan ini sepeda boleh diambil ?” Dulu pernah senior bilang pernah ambil sepeda-sepeda yang tak bertuan. Tapi perasaan tidak yakin. Karena saya bingung emailnya pakai tulisan kanji. Setelah baca email tersebut saya baca email dari milis mahasiswa NTUST yang Indo. Mereka bilang boleh ambil sepeda itu bahkan mereka sudah ambil. Seketika itu keinginan saya memliki sepeda muncul. Segara saya telp Jie Erma.

” Bu, sudah baca email ?”

“Mo ambil sepeda ya?”

Wallah ternyata Jie Erma berpikiran sama. He he

” Hayoo berangkat tak tunggu di depan Elektro”

Kita ini emang wanita2 pemberani jam 23.15 malam, jalan-jalan ke tempat parkir cuma hunting sepeda. šŸ˜€

Wah, disana sudah ada orang. Ternyata bbrp mhs Indo juga lagi hunting. Adi, Cici, Aldo dan Kevin. Kita berlima emang satu kelas mobile computing. Kok bisa kompak ya ? Emang Prof. ngajari materi apa di mobile computing ?

Tapi kita ber-enam masih bingung, bagaimana cara mengambil sepeda itu karena masih dirantai ? Belum lagi kita semua MABA dan merasa belum yakin. Ntar malah dikira pencuri sepeda. Akhirnya kita sepakat mencari Pak Satpam. Yach jam segini, Pak Satpam sudah pulang. Setelah berembug, kita sepakat kembali besok pagi.

Di asrama saya mencoba menyalakan Notebook untuk memastikan pengumuman tersebut. Saya melihat Pak Joss OL. Saya mencoba bertanya perihal sepeda tersebut. Menurut Pak Joss boleh diambil dan mengambil pake palu, dirusak kuncinya. Beliau menyarankan untuk mengambil sekarang daripada besok tinggal yang jelek2.

Waduh sudah jam 12 malam. Masak saya keluyuran tengah malam trus mukul2 kunci sepeda šŸ˜¦ Mau mengajak Jie Erma sungkan. Alhamdulillah Pak Joss mau menemani šŸ™‚

Setelah pilih-pilih sepeda yang kondisinya masih bagus, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah sepeda berwarna silver tanpa keranjang dan beroda kecil. Menurut Pak Joss itu sepeda untuk kesehatan. Ya sudahlah, namanya juga barang bekas. Ambil aja dech šŸ˜‰ Meskipun perlu sedikit perbaikan. Tapi tidak masalah. Yang penting punya sepeda.

Trima kasih Pak Joss atas bantuannya, Jie Erma yang menemani, Yos Lie atas kiriman email di Milis NTUST-ISA.

  1. wah jadi kepingin kuliah ke luar negri.. T_T kayaknya enak banget.. eh ternyata disana ada istilah maba juga ya?
    hehehe

  2. Sepeda? Hmm.. coba lihat jalan-jalan si Surabaya, apalagi di Jakarta? Adakah pengendara sepeda? Bahkan ketika di kampus dulu, saya bertahan bawa sepeda cuma hampir setahun, setelah itu… setelah “proyekan” mulai datang dan “dapur” bisa ngebul, sayah naik motor he he he….

  3. hm… akhirnya punya sepeda juga ya, selamat ya, bisa bersepeda bersama nih. Memang sepeda menjadi kendaraan umum di lingkungan kampus, saya sering bertemu profesor yang sedang mengendarai sepeda, entah mau pulang atau hanya beli makan di daerah sekitar kampus.

  4. #buchin
    enak bagian apanya ?
    banyak dukanya juga.

    #galih
    saya bertahan 2 th pake sepeda pancal di ITS
    panas ya …
    disini mo proyekkan kmn? bhs china gak teteh
    zhong wen hen cui nan …….
    di lab dah bisa mroyek šŸ™‚
    mroyek sama prof šŸ˜¦

    #yuhana
    bukannya skr dah bersepeda bersama
    kan ada “sepeda bayi”nya vera šŸ˜›

    • Biho
    • Januari 8th, 2007

    mumpung masih sempet ya itung-itung olahraga šŸ™‚

  5. “Menurut Pak Joss boleh diambil dan mengambil pake palu, dirusak kuncinya.”

    Beneran nih? Jangan2 hanya yang dari Indonesia yang melakukannya. Maksud saya, yang bagian “mengambil pake palu, dirusak kuncinya.” Ma’af kalau tersinggung.

    • ayahe wisanggeni
    • Januari 18th, 2007

    ok karena ning iin minta kujawab
    @ ali s kholimi

    belajar dari pengalaman2 tahun sebelumnya.
    sepeda2 itu mmg sudah ditinggalkan ama pemiliknya (maybe udah lulus) jadi daripada menuh2in parkiran (disini lahan sangat bernilai gak kayak ITS yg luasnya sejauh mata memandang ! ) maka ama security dikasihkan kepada yg mau dan butuh.

    kenapa harus pake palu, krn pemilik lamanya gak ninggalin kunci utk bukanya he he jadinya ya kpaksa pake palu utk bukanya.
    masak harus minta ke pemiliknya ya skrg entah dimana berada ?

    lagian anak lokal jg begitu utk buka kuncinya

  6. “kenapa harus pake palu, krn pemilik lamanya gak ninggalin kunci utk bukanya he he jadinya ya kpaksa pake palu utk bukanya.
    masak harus minta ke pemiliknya ya skrg entah dimana berada ?”

    Berarti artikelnya ya, yang kurang lengkap menjelaskan. šŸ˜€ Saya kira, tuh sepeda, dirantai jadi satu sama pak satpam kayak di dealer-dealer motor di Indonesia sini.

  1. September 22nd, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s